Semangat nasionalisme bangsa asia-afrika pada umumnya bertujuan untuk

Nasionalisme Indonesia ialah ideologi yang muncul pada masa Kolonialisme Belanda di Hindia Belanda yang menyerukan kemerdekaan bagi koloni itu dan penyatuannya sebagai negara yang merdeka dan berdaulat bangsa. Masa pembangunan di bawah kekuasaan kolonial itu acapkali disebut Kebangkitan Nasional Indonesia. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945 dan diakui merdeka dari Belanda setelah tahun 1949 setelah Revolusi Nasional Indonesia, nasionalisme Indonesia bertahan sebagai seperangkat ideologi yang mendukung melanjutkan kemerdekaan dan pembangunan negara yang baru merdeka. Sebab sifat Indonesia yang multietnis, nasionalisme Indonesia tidak terdiri dari pembelaan terhadap satu kelompok etnis, kadang-kadang diwujudkan sebagai Nasionalisme Kewarganegaraan, Nasionalisme Agama,[1][2][3] dan nasionalisme sayap kiri. Beberapa bentuk tersebut dicontohkan dalam Slogan Bhinneka Tunggal Ika Indonesia yang berarti “Berbeda-beda, namun tetap satu” dalam Jawa Antik, dalam ideologi dasar negara Pancasila, atau dalam undang-undang kontemporer yang menjamin keberagaman suku dan agama.[4]

Bendera Indonesia

Faktor-faktor yang menghipnotis munculnya nasionalisme:

Faktor internal

Kenangan kejayaan masa lampau

Bangsa-bangsa Asia dan Afrika sudah pernah mengalami masa kejayaan sebelum masuk dan berkembangnya imperialisme dan kolonialisme Barat. Bangsa India, Indonesia, Mesir, dan Persia pernah mengalami masa kejayaan sebagai bangsa merdeka dan berdaulat. Kejayaan masa lampau mendorong semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan. Bagi Indonesia kenangan kejayaan masa lampau tampak dengan adanya kenangan akan kejayaan pada masa kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Di mana pada masa Majapahit, mereka bisa menguasai kawasan seluruh Nusantara, sedangkan masa Sriwijaya bisa berkuasa di lautan sebab maritimnya yang kuat.

Bersatunya negara-negara Asia dan Afrika semenjak zaman dahulu kala

Faktor yang mendorong rasa nasionalisme bangsa Asia bukanlah yang akan terjadi penjajahan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa Asia, Afrika, melainkan rasa persatuan itu sudah dimiliki semenjak zaman dahulu kala terutama sesama ras, ataupun kerjasama perdagangan yang telah saling melengkapi antara suku produsen benda yang berlainan (sehingga terjadi pertukaran tanpa adanya keserakahan mirip yang dilakukan bangsa Barat). Mereka saling menghormati dan menjaga. Namun kedatangan bangsa Barat yang menjajah mengakibatkan mereka hidup miskin dan menderita sehingga mereka ingin menentang imperialisme Barat.

Munculnya golongan cendekiawan

Perkembangan pendidikan menyebabkan munculnya golongan cendekiawan baik akibat dari pendidikan Barat maupun pendidikan Indonesia sendiri. Mereka menjadi penggerak dan pemimpin munculnya organisasi pergerakan nasional Indonesia yang selanjutnya berjuang untuk melawan penjajahan.

Paham nasionalis yang berkembang dalam bidang politik, sosial ekonomi, dan kebudayaan

  1. Dalam bidang politik, tampak dengan upaya gerakan nasionalis menyuarakan aspirasi masyarakat pribumi yang telah hidup dalam penindasan dan penyelewengan hak asasi insan. Mereka ingin menghancurkan kekuasaan asing/kolonial dari Indonesia.
  2. Dalam bidang ekonomi, tampak dengan adanya perjuangan penghapusan eksploitasi ekonomi asing. Tujuannya untuk membentuk masyarakat yang bebas dari kesengsaraan dan kemelaratan untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia.
  3. Dalam bidang budaya, tampak dengan upaya untuk melindungi, memperbaiki dan mengembalikan budaya bangsa Indonesia yang hampir punah sebab masuknya budaya asing di Indonesia. Para nasionalis berusaha untuk memperhatikan dan menjaga serta menumbuhkan kebudayaan asli bangsa Indonesia.

Faktor eksternal

Kemenangan Jepang atas Rusia (1905)

Pada tahun 1904-1905, Jepang melawan Rusia dan tentara Jepang berhasil mengalahkan Rusia. Hal ini dikarenakan, modernisasi yang dilakukan Jepang telah membawa kemajuan pesat dalam banyak sekali bidang bahkan dalam bidang militer. Awalnya dengan kekuatan yang dimiliki tersebut Jepang bisa melawan Korea tetapi kemudian dia melanjutkan ke Manchuria dan beberapa kawasan di Rusia. Keberhasilan Jepang melawan Rusia inilah yang mendorong lahirnya semangat bangsa-bangsa Asia Afrika mulai bangkit melawan bangsa asing di negerinya.

Perkembangan Nasionalisme di Banyak sekali Negara

India untuk menghadapi Inggris membentuk organisasi kebangsaan dengan nama ”All India National Congres”. Tokohnya, Mahatma Gandhi, Pandit Jawaharlal Nehru, B.G. Tilak, dsb. Mahatma Gandhi memiliki dasar usaha:

  1. Ahimsa (dilarang membunuh) yaitu gerakan anti peperangan.
  2. Hartal, adalah gerakan dalam bentuk asli tanpa berbuat apapun walaupun mereka masuk kantor atau pabrik.
  3. Satyagraha, adalah gerakan rakyat India untuk tidak bekerja sama dengan pemerintah kolonial Inggris.
  4. Swadesi, adalah gerakan rakyat India untuk memakai barang-barang buatan negeri sendiri.

Selain itu adanya pendidikan Santiniketan oleh Rabindranath Tagore.

  • Gerakan Kebangsaan Filipina

Digerakkan oleh Jose Rizal dengan tujuan untuk mengusir penjajah bangsa Spanyol di wilayah Filipina. Novel yang dikarangnya berupa Noli Me Tangere (Jangan Sentuh Saya). Jose ditangkap tanggal 30 September 1896 dijatuhi hukuman mati. Akhirnya dilanjutkan Emilio Aquinaldo yang berhasil memproklamasikan kemerdekaan Filipina tanggal 12 Juni 1898 tetapi Amerika Perkumpulan berhasil menguasai Filipina dari kemerdekaan baru diberikan Amerika Perkumpulan pada 4 Juli 1946.

  • Gerakan Nasionalis Rakyat Cina

Gerakan ini dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, yang mengadakan pembaharuan dalam segala sektor kehidupan bangsa Cina. Dia menentang kekuasaan Dinasti Mandsyu. Dasar gerakan San Min Chu I:
1. Republik Tiongkok ialah suatu negara nasional Cina
2. Pemerintah Cina disusun atas dasar demokrasi (kedaulatan berada di tanggan rakyat)
3. Pemerintah Cina mengutamakan kesejahteraan sosial bagi rakyatnya.

Apa yang dilakukan oleh Dr. Sun Yat Sen sangat besar pengaruhnya terhadap pergerakan rakyat Indonesia. Terlebih lagi setelah terbentuknya Republik Nasionalis Cina (1911)

  • Konvoi Nasionalisme Turki di Bawah Atatürk (1923)

Dipimpin oleh Mustafa Kemal Atatürk/Pasya, menuntut pembaharuan dan modernisasi di segala sektor kehidupan masyarakat Turki demi mewujudkan negara dan bangsa Turki yang sekuler, modern, homogen, dan berorientasi barat.

  • Konvoi Nasionalisme Mesir

Dipimpin oleh Arabi Pasya (1881-1882) dengan tujuan menentang kekuasaan bangsa Eropa terutama Inggris atas negeri Mesir. Adanya pandangan modern dari Mesir yang dikemukakan oleh Muhammad Abduh menghipnotis berdirinya organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia mirip Muhammaddiyah.

Intinya dengan gerakan kebangsaan dari banyak sekali negara tersebut mendorong negara-negara lain termasuk Indonesia untuk melakukan hal yang sama yaitu melawan penjajahan dan kolonialisme di negaranya.

Munculnya Paham-paham baru

Munculnya paham-paham baru di luar negeri mirip nasionalisme, liberalisme, sosialisme, demokrasi dan pan-Islamisme juga menjadi dasar berkembangnya paham-paham yang serupa di Indonesia. Perkembangan paham-paham itu terlihat pada penggunaan ideologi-ideologi (paham) pada organisasi pergerakan nasional yang ada di Indonesia.

Nasionalisme tumbuh diindonesia dimulai setelah munculnya Perkumpulan Islam. Budi Oetomo yang sudah terbentuk dahulu adalah organisasi “elit” sehingga tidak berkontribusi dalam menumbuhkan nasionalisme diseluruh kalangan masyarakat. Perkumpulan Islam melakukan banyak sekali upaya dalam menumbuhkan nasionalisme di seluruh kawasan hindia belanda pada waktu itu.

Sebab adanya faktor pendukung diatas maka di Indonesiapun mulai muncul semangat nasionalisme. Semangat nasionalisme ini digunakan sebagai ideologi/paham bagi organisasi pergerakan nasional yang ada. Ideologi Nasional di Indonesia diperkenalkan oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang diketuai oleh Ir. Soekarno. PNI bertujuan untuk memperjuangkan kehidupan bangsa Indonesia yang bebas dari penjajahan. Sedangkan cita-citanya ialah mencapai Indonesia merdeka dan berdaulat, serta mengusir penjajahan pemerintahan Belanda di Indonesia. Dengan Nasionalisme dijadikan sebagai ideologi maka akan menawarkan bahwa suatu bangsa memiliki kesamaan budaya, bahasa, wilayah serta tujuan dan impian. Sehingga akan mencicipi adanya sebuah kesetiaan yang mendalam terhadap kelompok bangsa tersebut.

Perkembangan Nasionalisme di Indonesia

Sebagai upaya menumbuhkan rasa nasionalisme di Indonesia diawali dengan pembentukan identitas nasional yaitu dengan adanya penggunaan istilah “Indonesia” untuk menyebut negara kita ini. Dimana selanjutnya istilah Indonesia dipandang sebagai identitas nasional, lambang usaha bangsa Indonesia dalam menentang penjajahan. Kata yang bisa mempersatukan bangsa dalam melakukan usaha dan pergerakan melawan penjajahan, sehingga segala bentuk usaha dilakukan demi kepentingan Indonesia bukan atas nama kawasan lagi.
Istilah Indonesia mulai digunakan semenjak:

  1. J.R. Logan menggunakan istilah Indonesia untuk menyebut penduduk dan kepulauan nusantara dalam tulisannya pada tahun 1850.
  2. Earl G. Windsor dalam tulisannya di media milik J.R. Logan tahun 1850 menyebut penduduk nusantara dengan Indonesia.
  3. Serta tokoh-tokoh yang mempopulerkan istilah Indonesia di dunia internasional.
  4. Istilah Indonesia dijadikan pula nama organisasi mahasiswa di negara Belanda yang awalnya bernama Indische Vereninging menjadi Perhimpunan Indonesia.
  5. Nama majalah Hindia Putra menjadi Indonesia Merdeka
  6. Istilah Indonesia semakin populer semenjak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Melalui Sumpah Pemuda kata Indonesia dijadikan sebagai identitas kebangsaan yang diakui oleh setiap suku bangsa, organisasi-organisasi pergerakan yang ada di Indonesia maupun yang di luar wilayah Indonesia.
  7. Kata Indonesia dikukuhkan kembali dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Perkembangan nasionalisme yang mengarah pada upaya untuk melakukan pergerakan nasional guna seakan melawan penjajah tidak mampu lepas dari peran banyak sekali golongan yang ada dalam masyarakat, mirip golongan terpelajar/kaum cendekiawan, golongan profesional, dan golongan pers.

Golongan terpelajar dalam masyarakat Indonesia ketika itu termasuk dalam kelompok elite karena masih sedikit penduduk pribumi yang dapat memperoleh pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan adalah sebuah kesempatan yang istimewa bagi rakyat Indonesia. Mereka memperoleh pendidikan melalui sekolah-sekolah yang didirikan kolonial yang dirasa memiliki kualitas baik. Dengan pendidikan model Barat yang mereka miliki, golongan terpelajar dipandang sebagai orang yang memiliki pandangan yang luas sehingga tidak sekadar dikenal saja tetapi mereka dianggap memiliki kepekaan yang tinggi. Karena selain memperoleh pelajaran di kelas mereka akan membentuk kelompok kecil untuk saling bertukar ilham menyatakan pemikiran mereka mengenai negara Indonesia melalui diskusi bersama. Meskipun mereka berasal dari kawasan yang berbeda tetapi mereka merasa senasip sepenanggunagan untuk mengatasi bersama adanya penjajahan, kapitalisme, kemerosotan moral, peneterasi budaya, dan kemiskinan rakyat Indonesia. Sampai akhirnya mereka membentuk perkumpulan yang selanjutnya menjadi Oragnisasi Konvoi Nasional. Mereka membentu organisasi-organisasi modern yang berwawasan nasional. Mereka berusaha menanamkan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa, menanamkan rasa nasionalisme, menanamkan semangat untuk memprioritaskan segalanya demi kepentingan nasional daripada kepentingan eksklusif melalui organisasi tersebut. Selanjutnya melalui organisasi pergerakan nasional tersebut mereka melakukan gerakan untuk melawan penjajahan yang selanjutnya membawa Indonesia pada kemerdekaan.

Jadi Golongan terpelajar memiliki peran yang besar bagi Indonesia meskipun keberadaannya sangat terbatas (minoritas) tetapi golongan terpelajar inilah yang menjadi pelopor pergerakan nasional Indonesia sampai akhirnya kita berjuangan melawan penjajah dan memperoleh kemerdekaan.

Golongan profesional adalah mereka yang memiliki profesi tertentu mirip guru, dan dokter.Keanggotaan golongan ini hanya terbatas pada orang seprofesinya. Golongan profesional ini lebih banyak ada dan berbagi profesinya didaerah perkotaan. Golongan profesional pada masa kolonial memiliki relasi yang dekat dengan rakyat, sehingga mereka dapat mengetahui eksistensi rakyat Indonesia pada ketika itu. Sehingga golongan ini dapat menggerakkan kekuatan rakyat untuk menentang kekuasaan pemerintah kolonial Belanda.

a) Peran Guru

  1. Guru adalah ujung tombak usaha bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya dan berjuang memajukan bangsa Indonesia dari keterbelakangan.
  2. Guru menawarkan pendidikan dan pengajaran kepada generasi penerus bangsa melalui lembaga-lembaga pendidikan yang ada baik itu sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial maupun sekolah yang didirikan oleh tokoh-tokoh bangsa Indonesia.
  3. Melalui pendidikan tersebut guru dapat menanamkan rasa kebangsaan/ rasa nasionalisme yang tinggi. Sehingga anak-anak kaum pribumi dapat menyadari dan tekanan dari pemerintah kolonial Belanda.
  4. Guru telah membangun dan membangkitkan kesadaran nasional bangsa Indonesia.
  5. Guru telah mendidik dan melahirkan tokoh-tokoh pejuang yang dapat dipercaya dalam memperjuangkan kebebasan bangsa Indonesia dari cengkeraman kaum penjajah.
  6. Orang-orang pribumi mulai menghimpun kekuatan dan berjuang melalui organisasi-organisasi modern yang didirikannya. Organisasi-organisasi usaha yang didirikan oleh kaum terpelajar bangsa Indonesia dijadikan sebagai wadah usaha di dalam menentukan langkah-langkah untuk mengusir pemerintah kolonial Belanda dan berupaya membebaskan bangsa dari segala bentuk penjajahan asing.

Bagi guru kawasan usaha mereka ialah lembaga-lembaga pendidikan yang ada, di sekolah tersebut guru membangkitkan semangat usaha bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya.

Model lembaga pendidikan yang ada, yaitu:

  1. Perguruan Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara
  2. Forum Pendidikan Perguruan Muhammadiyah didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan

Melalui gurulah dihasilkan tokoh-tokoh besar bangsa Indonesia maupun tokoh-tokoh besar dunia. Di tangan gurulah terletak maju mundurnya sebuah bangsa. Jadi kalau tidak ada guru maka mungkin Indonesia tidak dapat terbebas dari Kekuasaan kolonial.

b) Peran Dokter

  1. Pada masa kolonial dokter memiliki relasi yang sangat dekat dengan kehidupan rakyat.
  2. Dokter dapat mencicipi kesengsaraan dan penderitaan yang dialami rakyat Indonesia melalui penyakit yang dideritanya. Ia mendengarkan banyak sekali keluhan yang dialami oleh rakyat Indonesia. Penderitaan dan kesengsaraan yang dialami oleh rakyat Indonesia ialah yang akan terjadi dari banyak sekali tekanan dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.
  3. Ketergerakan hati mereka diwujudkan melalui usaha dengan membentuk wadah organisasi yang bersifat sosial dan budaya yang diberinama Budi Utomo yang didirikan 20 Mei 1908 oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dr. Sutomo, Dr. Cipto Mangunkusumo, Dr. Gunawan Mangunkusumo.

Pers sudah mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-19, dan masuknya pers di Indonesia menawarkan pengaruh yang cukup besar bagi bangsa Indonesia. Wujud perkembangan pers dapat dilihat dalam bentuk surat kabar maupun majalah. Awalnya surat kabar yang beredar hanya digunakan untuk orang-orang asing tetapi sebab untuk mengejar pelanggan dari masyarakat pribumi maka muncul surat kabar yang di modali orang Cina tetapi menggunakan bahasa Melayu. Peran media:

  1. Melalui surat kabar terdapat pendidikan politik, karena melalui surat kabar tersebut ternyata dimuat isu-isu mengenai persoalan politik yang sedang berkembang sehingga secara tidak eksklusif melalui surat kabar tersebut telah menawarkan pendidikan politik kepada masyarakat Indonesia.
  2. Melalui Surat kabar/ majalah mempunyai fungsi sosial dasar yaitu memperluas pengetahuan bagi para pembacanya dan dapat membentuk pendapat (opini) umum.
  3. Pendidikan sosial politik dapat disalurkan melalui tulisan-tulisan di surat kabar dan media masa sehingga menumbuhkan pemikiran dan pandangan kritis pembaca yang dapat membangkitkan kesadaran bersama bagi bangsa Indonesia.
  4. Surat kabar adalah media komunikasi cetak yang paling potensial untuk memuat isu, wawasan dan polemik (tukar pikiran melalui surat kabar), bahkan ilham dan pemikiran secara struktural dapat dikomunikasikan kepada masyarakat luas.
  5. Meskipun pada masa itu produktienssyariah.com gerak pers dibatasi dan dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial. Tetapi melalui surat kabar tersebut sebagai sarana untuk memberikan segala sesuatu yang dikehendaki dan diprogramkan oleh pemerintah sehingga sedapat mungkin mampu diinformasikan kepada masyarakat luar. Dimana pemberitahuannya lebih memihak pada pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Pada masa pergerakan nasional Indonesia, surat kabar mempunyai peranan yang sangat penting bahkan organisasi pergerakan nasional Indonesia telah memiliki surat kabar sendiri-sendiri, mirip Darmo Kondo (Budi Utomo), Oetoesan Hindia (Sarekat Islam), Het Tiidsriff dan De Expres (Indische Partij), Indonesia Merdeka (Perhimpunan Indonesia), Soeloeh Indonesia Moeda (PNI), Pikiran Rakyat (Partindo), Daulah Ra’jat (PNI Baru)

Surat kabar yang dimiliki oleh organisasi-organisasi tersebut menjadi salah satu sarana untuk memberikan bentuk-bentuk usaha kepada rakyat, agar rakyat dapat mengetahui dan menawarkan dukungan kepada organisasi-organisasi itu.

Tahapan perkembangan nasionalisme Indonesia ialah sebagai berikut.

  • Periode Awal Perkembangan

Dalam periode ini gerakan nasionalisme diwarnai dengan usaha untuk memperbaiki situasi sosial dan budaya. Organisasi yang muncul pada periode ini ialah Budi Utomo, Sarekat Dagang Indonesia, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah.

  • Periode Nasionalisme Politik

Periode ini, gerakan nasionalisme di Indonesia mulai bergerak dalam bidang politik untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Organisasi yang muncul pada periode ini ialah Indische Partij dan Gerakan Pemuda.

Dalam periode ini, gerakan nasionalisme di Indonesia ditujukan untuk mencapai kemerdekaan baik itu secara kooperatif maupun non kooperatif (tidak mau berafiliasi dengan penjajah). Organisasi yang bergerak secara non kooperatif, mirip Perhimpunan Indonesia, PKI, PNI.

Periode ini, gerakan nasionalisme di Indonesia lebih bersikap moderat dan penuh pertimbangan. Diwarnai dengan sikap pemerintah Belanda yang sangat reaktif sehingga organisasi-organisasi pergerakan lebih berorientasi bertahan agar tidak dibubarkan pemerintah Belanda. Organisasi dan gerakan yang berkembang pada periode ini ialah Parindra, GAPI, Gerindo.

Dari perkembangan nasionalisme tersebut akhirnya bisa menggalang semangat persatuan dan impian kemerdekaan sebagai bangsa Indonesia yang bersatu dari banyak sekali suku di Indonesia. Nasionalisme ialah rasa luhur yang dimiliki bangsa Indonesia, cerminan dari komitmen yang pernah diikrarkan berpuluh-puluh tahun lampau, bertolak dari rasa persaudaraan, senasib sepenanggungan.

  1. ^ “Muslim Berperan Besar dalam Kemerdekaan RI”. Republika. Diakses tanggal 5 Juni 2021. 
  2. ^ Justus M. Van Der Kroef. “Peranan Islam dalam Nasionalisme dan Politik Indonesia”. jurnal SAGE. Diakses tanggal 5 Juni 2021. 
  3. ^ “Nasionalisme dan Agama di Indonesia”. JSTOR. Diakses tanggal 15 Juni 2021. 
  4. ^ “Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 atau UU No.12/2006” (PDF). 2006. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

produktienssyariah.com